Wednesday, May 16, 2012

In the name of God, Son and the Holy Spirit: So long Granny

Sabtu, 12 Mei 2012, pukul 18.00 WIB, RSCM, kamar 518.


Telah berpulang Ibu, Eyang, Eyang Buyut kami, Ursula Rooslah Islan. We will re-united one day.

***

Mungkin beberapa waktu lalu ada temen-temen yang sempet aware kalo gw update status di Twitter bahwa gw beberapa kali ke RS untuk jaga malem, jagain Eyang gw. Semua bermula di hari Rabu, 2 Mei waktu nyokap gw telpon gw dan bilang bahwa Eyang gw jatoh di kamar mandi dan kepalanya berdarah.

At that moment gw masih ditengah konser L`Arc~en~Ciel dan baru ke IGD RSCM setelah konser selesai. Ngeliat tubuh Eyang gw yang tergolek tanpa bisa berbuat apa-apa, hanya gerak bola matanya saja membuat gw meneteskan air mata. Eyang gw kena serangan stroke tiba-tiba makanya jatoh di kamar mandi.

Memang usianya tak lagi muda. Eyang gw lahir di Muntilan, 19 Oktober 1919. Berarti usianya sudah 92 tahun ketika wafat. Sudah merasakan kehilangan kehilangan putri ke-duanya dan kedua mantunya dari putri pertama dan ke-tiga. Eyang gw sudah merasakan memiliki enam orang cucu dan dua orang cicit.

Eyang gw terdeteksi lemah jantung, padahal selama ini yang kita tau, Eyang hanya menderita darah tinggi dan kencing manis. Tapi  Eyang gw ini mantan perawat, makanya pinter jaga makan dan kesehatan. Seinget gw --karena pernah tinggal serumah selama beberapa tahun-- Eyang gw ini sebenernya cukup fit. Eyang rajin ke pasar, bahkan ke Gereja sendiri. Tapi memang sejak beberapa tahun berikutnya sejak pernah jatoh yang menyebabkan tulang panggulnya geser, Eyang gw udah ngga bisa tanpa pengawasan lagi kalo mau ngapa-ngapain. Bisa dibilang sampai usianya yang 92 ini, Eyang gw belom terlalu pikun maupun tidak bisa mendengar kecuali penglihatannya yang sebelah kanan terkena katarak.

Sabtu, 12 Mei WIB, pukul 17.10, pintu tol Tomang

Gw masih antri untuk keluar dari tol dan memang sudah niat mau jaga malem di RSCM, 2 malam seperti biasa. Tiba-tiba ada nomor yang ngga dikenal nelpon gw.

"Mba Anti ya? Ini dari RSCM, posisi sekarang dimana?" tanya suara di seberang sana.

Gw yang masih agak bingung karena orang ini tau nomer gw, agak lama responnya. "Saya lagi di jalan."

"Segera kesini ya, ini kondisi Eyangnya gawat," lanjut si penelepon.

"OK. Tapi ini siapa ya?"

"Saya dokter X. Segera ya mbak, saya tunggu."

Klik. Telepon pun terputus.

Sebenernya ada sepupu gw satu lagi yang jaga, tapi entah kenapa gw yang ditelpon. Buru-buru gw telpon sepupu gw itu, ternyata dia lagi beli obat untuk Eyang gw di Apotik, makanya ngga denger waktu dipanggil melalui pengeras suara.

Kondisi jalanan Jakarta yang macet tidak memudahkan gw untuk bisa segera sampai ke RSCM.

Mungkin ya kaya di film-film. Gw langsung parkirin mobil gw sekenanya karena bertepatan sama jam besuk. Ngga sabar nungguin lift yang turun. Begitu pintu lift kebuka di lantai 5, gw langsung lari ke kamar Eyang gw.
Disitu gw liat, suster-suster dan dokter-dokter lagi sibuk memberikan CPR* ke Eyang gw sambil terus mompa oksigen dari tabung plastik. Seketika itu juga gw flashback ketika bokap gw meninggal.

Gw mantau kondisi Eyang gw lewat layar monitor. Disitu gw bisa liat detak jantung dan hembusan nafasnya. Grafiknya ngga beraturan dan beberapa kali cuma garis lurus. Dokter yang satu terus ngasih CPR, sementara dokter yang lain nyuntikin obat entah apa, tapi gw yakin itu untuk merangsang denyut jantung Eyang gw.

Gw megang tangan Eyang gw, cuma mau ngecek udah mulai dingin atau masih ada kehangatan. Jemarinya bengkak semua, efek dari suntikan infus selama 11 hari. Dalam hati gw berulang kali baca doa Bapa Kami walau patah-patah karena udah ngga hapal. Gw pun cuma ngomong ke Eyang gw, "Kalau emang Eyang udah mau pergi, pergilah dengan tenang. Kami semua ikhlas." Gak henti gw ngelus tangan dan kaki Eyang gw.

Terakhir-akhir ketika gw liat para dokter dan suster makin ribet, gw menjauh dari tubuh Eyang gw. Beberapa kali gw liat Eyang gw jackpot. Makin miris ngeliatnya. Gw rasa udah saatnya. Ngga lama, salah satu dokter ngajak gw dan sepupu gw untuk ke ruang suster.

Ngga perlu dikira lagi apa yang akan disampaikan oleh si dokter. Gw udah tau Eyang ngga ada bahkan sebelom si dokter ngomong, tapi begitu disampaikan secara formal, akhirnya pecah juga tangis gw. Gw langsung balik lagi keruangan dan meluk Eyang gw untuk terakhir kalinya. Ngelus kepalanya untuk terakhir kali.

Yesus besertamu, Eyang......
Taken on Christmas 2011. RIP 18 Oct 1919 - 12 May 2012



*: correct me if I'm wrong dalam penggunaan istilah CPR.

Friday, May 11, 2012

Lenka: Lebay

Myung, dimana?


Dirumah. Kenapa?


Ngga apa2. Kangen aja. Udah lama ngga ketemu.


Hahaha, lebay.


Jantung Lenka seakan berhenti berdegup membaca respon Myung.

Oh, oke. Sip.

***

Monday, April 30, 2012

Dream Theater : The Dramatic Moment

The Spirit Carries On, Pull Me Under, The Answer Lies Within, Under the Glass Moon, I Walk Beside You, Another Day dan masih banyak lagi lagu yang saya harapkan malam ini akan berkumandang di Mata Elang  International Stadium, Ancol. Band yang kehadirannya sudah dinantikan jutaan --kalau saya boleh lebay--jemaat pecinta musik rock di tanah air dan tiketnya sudah gencar dijual sejak akhir tahun lalu. Setelah album ke-11 kini tibalah saatnya, Dream Theater - A Dramatic Turn of Events Tour.

Bagi saya menanti bulan April tiba itu PR banget. Saya akuin saya bukan die hard fans Dream Theater tapi siapa sih orang yang ngga pengen nonton profesor-profesor ini menampilkan skill mereka di atas panggung? Maka disitulah saya berada. Rela mengantri sampai melingkar-lingkar seperti ular untuk bisa masuk ke dalam venue.

Andy McKee didaulat sebagai band pembuka progressive rock asal Long Island, New York, Amerika Serikat ini. Saya sendiri 'terlambat' untuk bisa masuk ke dalam venue dan melewatkan beberapa lagu Andy McKee, sampai akhirnya pukul 20.30 ia mengakhiri penampilannya dan panggung di-setting untuk LaBrie cs. Tepat pukul 21.00, Dream Theater memasuki panggung dengan iringan Bridges in the Sky yang dramatis dan kemudian disambung dengan 6.00. Mau dikata apa, world tour kali ini memang untuk mempromosikan album terbaru mereka dan tidak semua lagu baru mereka tersebut saya hapal.

Saya mulai ikut bernyanyi ketika Petrucci dan LaBrie mengambil slow session dengan membawakan Silent Man dan Beneath the Surface. Setelahnya Spirit Carries On pun dilantunkan dan membuat MEIS bergema karena semua pengunjung dengan sangat lancar menyanyikan lagu tersebut. Satu lagu yang saya nantikan dan saya yakin pasti akan dibawakan adalah On the Back of Angels. Dream Theater tidak merubah komposisi bermusik mereka, dengan pemilihan riff Petrucci yang dipadukan dengan kepiawaian Jordan Rudess --keyboardist yang bergabung pada tahun 1999 dan memiliki julukan The Wizard of Apps ini karena memaksimalkan teknologi iPadnya.

Dulu sekali, John Myung adalah personel favorit saya di Dream Theater. Namun malam itu, penampilannya  kalem dan hanya berdiri di sudut kiri panggung dari arah penonton dan hanya sesekali mengibaskan rambutnya. Volume bass Myung terasa kurang, oleh karenanya permainannya kurang bisa dinikmati oleh penggemarnya. Sementara itu saya pribadi, terpesona habis-habisan oleh Jordan Rudess dengan settingan keyboardnya yang bisa bergerak memutar. Kecepatan jarinya tidak mengalahkan Petrucci maupun Myung. Serta yang patut diacungin jempol dan layak untuk diberi kesempatan solo performace adalah penampilan Mangini. Perawakannya boleh kecil untuk orang asing pada umumnya, tapi staminanya jangan ditanya. Permainannya pun tidak kalah dari Portnoy.

Pull Me Under merupakan lagu penutup dalam rangkaian konser mereka yang berdurasi kurang lebih 120 menit tersebut. Sebagian masih merasa kentang alias kena tanggung karena masih merasa haus akan penampilan Dream Theater yang sudah sangat ditunggu-tunggu selama ini. Masih banyak lagu yang belum dibawakan oleh mereka.


Tapi overall, saya senang walau tidak bisa dikatakan puas akan penampilan mereka malam itu.



Photo: courtesy of Rinaldi Noor

Monday, April 23, 2012

Lenka: Merindukannya

*bzzz* BlackBerry Lenka bergetar dari dalam saku celana jeansnya. Ia sudah bersiap-siap untuk menyaksikan konser Dream Theater.

Lenka tidak suka Dream Theater. Ia hanya tau satu lagu, tapi ia dipaksa ikut menemani kakaknya.

Hei, rekamin yah pas mereka bawain Spirit Carries On

Myung! pekik Lenka dalam hati. "Harusnya, kau yang ada disini, menyaksikan John Myung mencabik bassnya, seperti biasa aku menyaksikan kau dengan Red Hohner-mu."

Iya... :)

Lenka menatap display picture Myung lamat-lamat di layar BlackBerry-nya. "Ternyata aku merindukanmu Myung."
Cute Blue Flying ButterflyLight Blue PointerVanisher