16.25
Farahdiba. Farah biasa ia dipanggil. Bolak-balik, ia mematut diri di cermin. Melihat kedalam matanya sendiri. Mata yang menurut ia, biasa saja. Tidak menarik, tidak berwarna coklat muda, bahkan matanya tak simetris.
Entah kenapa tiba-tiba, ia menjadi resah sendiri. Bingung sendiri. Bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah seharusnya ia senang, atau malu, atau lebih baik hal tadi tidak terjadi.
15.37
Farah baru saja keluar dari kantornya hendak pulang kerumah. Ia sedang menanti angkutan umum di depan kantornya yang bekerja di bidang media tersebut.
“Farah?? Farahdiba kan??”
Tiba-tiba sebuah suara merusak khayalan Farah untuk segera berbuka puasa di rumah dengan siomay yang baru dibelinya. Farah segera mencari asal suara, dan ups! FIRMAN!
“Eh mas,” entah darimana kegugupan itu dengan sangat sekejap menguasai Farah.
“Baru mau pulang? Aku antar ya?”
“Aku nggak bawa helm.” Celaka, kenapa langsung ngomong seperti itu, rutuk Farah. Seakan-akan memang ia dengan senang hati sekali menerima tawaran itu. Farah yakin, ucapan itu terlontar semata-mata hanya karena rasa kaget masih menyergap dirinya.
“Aku.., bawa mobil kok. Aku parkir disana. Aku pikir aku salah mengenali kamu, tapi..” ucapan itu terputus begitu saja.
Farah tak dapat menyembunyikan getar hatinya untuk mengetahui apa lanjutan dari kata-kata tersebut. Rupanya sang lelaki bisa membaca pikiran Farah.
“…, kamu nggak pernah berubah. Ayo, tapi sebentar ya, kuberesin dulu mobilku.”
15.40
Farahdiba adalah nama seorang ratu yang terkenal di Mesir. Kata orang tua Farah, sebenarnya nama “Ratu” mau ditambahkan sebagai suku kata pertama dari namanya. Namun nenek Farah tidak berkehendak. Ia mengkhawatirkan, apabila nama “Ratu” itu tidak cocok dibawa ketika Farah dewasa kelak, apabila tindak-tanduknya tidak mewakili namanya. Jadilah seorang Farahdiba.
Setelah perbincangan ala kadarnya dengan Firman, sosok yang kadang mengisi sedikit relung hatinya, namun sebuah buku kecil berwarna hijau dan coklat melarangnya untuk memilikinya. Bahkan sejak dulu. Farah milik orang lain, yang kala itu berteman dengan Firman. Firman, dimiliki oleh seorang wanita entah dimana, ia tidak pernah tahu dan melihatnya. Farah ragu. Firman adalah idola para wanita. Begitu banyak wanita yang memujanya, tapi ia selalu mengakui Farah sebagai bagian dari dalam dirinya yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya.
Bertahun-tahun sebelumnya
Kenikmatan memadu kasih melumuri perasaan dua insan manusia berbeda jenis tersebut. Entah apa yang menyesatkan. Benarkah, kala ada dua insan manusia berlainan jenis sedang terbuai asmara, akan mendatangkan sosok ketiga yaitu setan? Mungkin ini yang terjadi pada Farah dan Firman.
“Kamu janji kan mas, nggak akan pernah ngomong hal ini sama siapapun? Aku benci, laki-laki selalu menjadi arogan kalo sedang bercerita diantara temen-temennya, berapa banyak wanita yang ia bisa tiduri,” desah Farah seraya memelukkan dirinya pada lelaki salah yang disukainya itu.
“Aku nggak akan mungkin cerita sama siapapun. Apa wajahku nggak akan tecoreng, kalo bertindak kaya gitu? Farah, kamu memang pencinta sejati. Aku menyukaimu, aku menikmatimu. Bau tubuhmu, hangat kulitmu, ciuman manis dari bibirmu yang selalu membuatku ingin pulang padamu, dan aku sangat menikmatimu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Benar-benar menikmati.”
Farah termenung. Lubuk hatinya tahu ini salah, tapi.. Ia mengakui, ia menyukai bercinta dengan Firman. Hatinya bergolak. Ia suka pada Firman. Beberapa orang percaya Firman menggunakan susuk di wajahnya agar memikat hati perempuan. Bukan hanya Farah yang merupakan kekasih dari teman Firman yang terjebak dengan perasaan ini. Masih ada satu – dua kekasih teman Firman yang lain, yang juga kepincut dengan Sang Don Juan.
Kembali ke masa sekarang
15.55
Pikiran itu sempat berkelebat di benak Farah. Farah takut. Ia sudah mempunyai Bayu yang setia menunggunya di tanah kelahirannya. Farah tak dapat menolak ketika jemari Firman menggenggam erat tangannya. Entah perasaan apa yang mendorong Farah bahkan membalas genggaman tersebut.
“Mas, kamu nggak terburu-buru kan? Mau anterin pinjem film sebentar ?”
“OK. As you wish Honey.” Jari Firman memegang dagu Farah gemas.
Selama Farah mencari-cari VCD favoritnya, Firman terus mengikutinya dari belakang, seakan ia tidak ingin waktu berlalu. Ia tidak ingin pulang ke istrinya, andai saja ia tidak ingat ini bulan Ramadhan. Ia merengkuh pinggang Farah dari belakang. Farah terdiam, terpaku. Hatinya menikmatinya. Hatinya menyuruh untuk berlama-lama dalam dekapan pria dengan dada bidang itu. Farah juga tidak ingin waktu berlalu yang membuat ia harus berpisah dari Firman, agar Firman bisa kembali pada istrinya dan Arya, buah hatinya.
“Jadi kapan nih si kecil mau punya adik,” Farah berusaha mengalihkan pembicarannya dari sweet temptation yang mungkin akan terjadi.
“Aku ingin punya dari kamu.” Firman memang tahu benar bagaimana memperlakukan seorang wanita. Kuduk Farah bergetar hebat ketika Firman berkata lirih di telinganya. Bibirnya menyentuh daun telinga Farah. Hembusan nafas hangatnya membuat Farah luluh lantak.
Dalam kegugupan, Farah hanya tertawa ragu.
“Kamu masih cinta banget yah sama aku?” kelakar Farah yang menurutnya garing, tidak percaya. Namun tidak bagi Firman. Ia tarik lembut Farah mendekat ke dadanya.
“Tidak, aku serius. Dari dulu, kemarin ketika aku terlalu sibuk hingga tidak bisa mengunjungi kamu, sampai sekarang, aku selalu kangen. Aku selalu rindu. Aku suka banget kita deket seperti ini. Aku bisa mengenang aroma tubuhmu.”
16.20
Firman sudah mengantarkan Farah pada ujung gang rumah Farah. Farah tidak ingin Firman kerumahnya dulu. Lagipula sebentar lagi berbuka puasa, toh pasti Firman ingin berbuka bersama keluarganya dirumah.
Mereka sudah membuat janji untuk bertemu lagi di lain waktu. Firman ingin mengajak makan Farah, atau mungkin sekedar jalan-jalan keluar kota menghabiskan waktu bersama.
Farah tahu, Firman masih baik-baik saja dengan istrinya. Farah tidak sanggup melihat mata Firman. Seakan-akan memang cinta itu sesungguhnya ada untuk dirinya. Mungkin, andai saja dulu Firman belum memiliki seseorang yang dekat dengannya. Atau mungkin Farah belum memiliki kekasih. Bahkan ketika sekarang. Andai Arya belum hadir dalam diri Firman dan Bayu tidak pernah Farah terima cintanya. Akankah kedua hati ini bertemu lagi.
Sepanjang perjalanan Farah kerumah, hati dan pikirannya mulai berantakan, tak beraturan. Pikirannya melayang dan melompat-lompat. Berusaha membuka kotak memorinya antara yang satu dengan yang lainnya. Manis, tapi salah.
Ia merasa bersalah terhadap Bayu.
Tiga minggu kemudian
“Aku masih sayang banget sama kamu, Farah” ucap Firman dengan tangan-tangannya yang menari lincah di tubuh Farah. Bagaikan pembukaan dari tariannya, Firman meraba tubuh Farah yang teratas, kemudian perlahan namun pasti mulai turun dan menyelesaikan babak pertama tariannya di bagian sensitif Farah sebagai seorang wanita.
Farah tidak bisa menolaknya. Ia menikmati sentuhan Firman. Ia bahkan menikmati suara desahan lirih nan manja yang bergulir dari bibirnya. Bibir yang selalu ingin dihabiskan manisnya oleh para lelaki pemuja nafsu.
“Mas, aku nggak bisa,” elak Farah diantara perasaan “mau-mau-enggaknya”.
“Aku udah nggak cantik lagi. Aku udah nggak semulus dulu. Aku sadar dari dulu aku bukanlah wanita menarik, bahkan sekarang ada sekian gram lemak yang bertengger di sekitar pinggangku. Aku malu, bulu pubisku panjang, bulu ketiakku belum dicukur, dan yang terparah keloid karena operasiku dulu, belum hilang.”
“Nggak sayang, kamu masih tetep Farahku. Farah yang kusayang,” masih dengan riang gembira, bibir, lidah, jemari Firman memainkan tubuh Farah layaknya panggung pementasan.
Malaikat datang. Malaikat menyelamatkan Farah. Farah tiba-tiba saja tidak dapat berhenti memikirkan Bayu. Bayangan wajah Bayu memenuhi benaknya.
Aku manusia laknat, geram Farah. Kalau saja memang Firman ingin memiliki seluruh jiwa ragaku, tentunya sejak dulu ia akan serius denganku. Ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak bisa melihat Arya menangisi ayahnya yang cacat hati seperti Firman. Aku sayang Bayu.
Kira-kira itulah yang diyakini Farah. Bulan yang fitri baru saja berlalu, apa yang hendak ia perbuat? Kembali ke jalan setan? Farah menangis. Ia tahu, Bayu disana sedang berjuang mati-matian untuk melawan penyakitnya, agar ia bisa melamar Farah tahun depan.
TIDAAAAAKKK!!! Jerit Farah. Bukan ini yang ia inginkan.
“Maaf, antarkan aku pulang sekarang juga. Mungkin dulu, aku pernah berbuat kesalahan dengan tidur denganmu. Ciumanmu adalah ciuman terbaik yang pernah aku rasakan. Bibirmu juga bibir lelaki yang paling manis yang pernah kuhisap. Itu dulu. Aku sudah taubat. Aku sudah memiliki lelaki yang siap untukku.”

0 comments:
Post a Comment