Wednesday, January 5, 2011

Selamat jalan 2010, selamat datang 2011

Apa yang akan saya tulis disini mungkin lebih sebagai kaleidoskop kehidupan saya sendiri selama satu tahun kebelakang.

Harus saya akui, 2010 sama sekali bukan tahun saya.

Saya ingat, menjelang tahun baru 2009 menuju 2010, saya habiskan dirumah saja dengan menonton acara TV sampai pagi (memang kebiasaan saya yang enggan untuk menghabiskan waktu menghitung mundur tahun baru diluar). Begitu masuk tanggal 1 Januari 2010, saya selesaikan dengan menonton TV setelah itu tidur deh.

Seingat saya waktu itu saya sedang nganggur. Kala itu juga, saya ingat, salah seorang teman SMP sekaligus SMA saya sedang terlibat masalah keluarga (dengan suaminya atau mantan suami atau siapa sajalah yang pernah berperan serta dalam membuahkan rahim teman saya itu). Bukan saya termasuk orang yang ikut campur urusan rumah tangga orang lain, namun prinsip saya adalah, ketika ada seseorang yang dalam kesusahan dan mendatangi saya, selama saya bisa bantu, kenapa tidak? Saya tidak akan menginjak lahan privasi-nya. Hanya membantunya memberi makan dan naungan dari hujan dan panas.

Bulan Februari, ketika teman saya itu melangsungkan sidang perceraiannya, saya bertemu dengan seseorang, yang ternyata adalah teman SMP saya, tapi duluuuuu sekali, kami tidak saling mengenal. Singkat cerita kami jadian, kami sangat jatuh cinta dan berangan-angan akan segera menikah sesegera mugkin. Panggilan sayang kami bahkan sudah Ayah – Bunda lho.. 

Waktu berlalu menjadi Maret. Masa tersuram dan terkelabu saya selama 25 tahun. Tepat tanggal 10 Maret 2010, ayah saya dipanggil oleh Sang Pencipta. Satu hal yang akan selalu saya ingat, saya pernah bertanya kepada Almarhum, apakah jika ada rejeki dan jodoh, tahun depan saya boleh menikah? Ayah saya kala itu dengan jujur berkata belum ‘sreg’ dengan kekasih saya kala itu. Terlebih lagi yang aneh, dimalam terakhir kami menghabiskan waktu sebagai ayah dan putrinya, ayah saya gelisah sekali dan ‘mengusir’ kekasih saya dari kamar rumah sakit. Mungkin itu pertanda dari beliau, bahwa beliau hanya ingin menghabiskan detik-detik terakhirnya dengan saya. Tak lama setelah ayah saya tiada, saya diterima bekerja di sebuah kantor pengacara. Saya sebenarnya sangat menyukai kegiatan bekerja saya. Bertemu dengan office boy sekaligus supir merangkap kurir yang otaknya ngga jauh dari selangkangan, serta keponakan owner – yang dulu saya anggap orang ini bodoh karena tidak tau apa-apa, tapi lama-lama saya salut karena ia tidak malu untuk bertanya. So far, so good.

Angin April sudah berhembus. Jakarta masih dengan cuacanya yang tidak menentu. Saya mulai memiliki cicilan sebuah motor dan sebuah blackberry. Parah banget, kantor saya ini tidak memiliki koneksi internet, kalaupun ada, saya harus minjem modem si bos dulu. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli blackberry, supaya saya bisa terima e-mail baik dari bos ataupun klien dengan cepat. Oh iya, saya lupa bilang. Sejak ayah saya tiada, hubungan saya dengan Ibu saya sempat tegangan tinggi terus. Terlebih lagi karena campur tangan abang saya, yang dulunya tidak tahu-menahu tentang apa yang terjadi dirumah, tiba-tiba sekarang ingin mengambil alih semuanya. Pertengkaran terhebat yang pernah terjadi diantara kami, ketika saya dituduh pelit dan ingin menguasai mobil twincam sebagai peninggalan terakhir ayah saya. Seumur-umur dalam hidup saya, ayah saya tidak pernah mengajarkan saya menjadi orang yang materialistis. Saya tidak pernah peduli dengan sedikitpun harta peninggalan ayah saya. Karena apa yang sudah beliau wariskan kepada saya adalah pengetahuan dikepala saya dan gelar sarjana hukum saya. Saya minggat dari rumah selama 4 hari. Si kekasih ulang tahun. Saya belikan ia sebuah jam tangan G-shock. Pinjam kartu kredit orang. :D

Memasuki bulan Mei, suasana kantor mulai tidak asik. Bukan karena pekerjaan saya, tapi terlebih karena kelakuan bos saya yang mulai kelihatan belangnya. Saya kasihan dengan rekan kerja saya si sekretaris. Saya sendiri jarang kena semprot karena saya sering dinas luar kantor. Tapi kami masih bertahan karena saling support satu sama lain. Cheer up, girls!

Tidak terasa pertengahan tahun sudah datang. Halo Juni, apa kabar? Masih ingat cerita teman saya yang cerai itu? Hemph, mungkin ini aib baginya. Tapi entahlah. Perceraian yang ia lakukan beberapa waktu lalu yang kemudian kembali ke suami pertamanya, yang kemudian entah bagaimana bercampur lagi dengan si suami yang sudah cerai, aaah, bingungin, tapi yaaah, gitu deh pokoknya. Intinya, si suami lama yang datang kembali ditendang begitu saja. Hidupnya seseorang, benar-benar hanya Tuhan yang tahu.

Samina mina ee, waka waka ee, samina samina this time for Africa!!! Begitulah lagu yang akan menjadi soundtrack sepanjang bulan Juli 2010. Demam Piala Dunia menghadang seluruh dunia. Dimana-mana diadain nonton bareng. Saya sendiri sebenernya tidak hobi bola, tapi hanya penyuka musiman saja. Sama ketika Piala Dunia dilangsungkan tahun ini. Sejak awal saya menjagokan Portugal. Bukan semata-mata karena ada Christiano Ronaldo, tapi memang benar-benar suka aja. Namun dibalik derai tawa bulan itu, hadir pula derai tangis. Disinilah untuk pertama kalinya saya mengetahui kekasih saya berselingkuh dengan teman SMP kami yang lain. Mereka berselingkuh via Facebook. Masalah selesai, kata sang kekasih ia memilih saya. OK. Sayapun sudah hijrah ke kantor yang baru, di Menteng. Untuk mengurangi rasa kesal, saya nonton Hoobastank!

Bukan maksud saya menilai lebih seorang wanita. Tapi begitulah adanya, ketika seorang wanita sudah mencintai seorang pria dengan setulus dan seutuhnya, ia akan selalu tau, ketika ada sesuatu yang tidak beres. Begitupula dengan saya. Agustus yang membara, sama seperti di masa perang kemerdekaan. Kata-kata manis yang disampaikan oleh kekasih saya terasa hambar. Bahkan pertengkaran demi pertengkaran terjadi diantara kami. Suasana menjadi keruh. Dia kembali bermain api. Masih dengan wanita yang sama. Hanya amarah yang berkecamuk setiap hari. Sudah mulai puasa. Tapi ternyata saya mengidap sakit. Saya terlalu kesal dengan semua kebohongan dan kebusukan ini. Saya melakukan perjalanan jiwa ke Semarang – Cirebon – dan sekitarnya. Saya tidak bisa puasa karena saya harus minum obat secara teratur. Disini pula saya menghadapi orang-orang yang tidak berkompeten, menyerang saya. Kekasih saya yang sudah jadi mantan, selingkuhannya yang ternyata masih istri sah orang dengan dua orang putri, serta sepupu mantan saya yang entahlah, saya tidak tahu bagaimana menggambarkan mereka.
Saya dihujat. Saya dihina. Dicaci maki. Bahkan, saya tidak boleh menghubungi dia, mengsms atau aneka koneksi apapun. Baiklah kalau begitu. Saya jadi irit pulsa.

Allahu Akbar Allahu Akbar Walillah Ilham… Ini adalah Idul Fitri yang pertama tanpa kehadiran sosok ayah dirumah. Sakit saya semakin parah. Saya juga sudah mengundurkan diri dari kantor yang di Menteng sejak Agustus kemarin. September berlalu cukup normal. Saya suka seseorang, tapi dia sudah beristri. Dia adalah keyboardis sebuah band yang wajahnya mirip banget sama Andre Stinky. :D Saya sekarang jadi punya hobi baru. Nongkrong di kafe-kafe tempat dia biasa manggung. Saat ini pulalah yang menghasilkan tagline baru untuk saya: Loving you secretly is my satisfaction. Habisnya apa boleh buat? Sudah beristri. Jadi saya hanya bisa ‘memilikinya’ sebatas dan selama dia menjadi band pengisi sebuah kafe saja.

Tabungan saya terkuras habis. Walaupun saya menemukan banyak orang-orang baik selama Perjalanan Jiwa saya, sejenak saya lupa apa hasilnya. Ketika saya harus kembali ke realita, bahwa sayalah tulang punggung keluarga tapi tidak berpenghasilan. Baiklah, mari kita membeli surat kabar setiap hari Sabtu dan kita mulai pencarian lowongan kerja. Oktober telah berlaku baik kepada saya. Tak dinyana, tak diduga, dari empat lamaran yang saya kirim, dua diantaranya bersambut dengan cepat. Bahkan akhirnya saya masuk disalah satunya. Kantor tersebut melakukan proses wawancara dengan cepat. Alhamdulillah, gaji sayapun naik daripada kantor-kantor saya sebelumnya. Bonafit pula. Kantor saya yang sekarang adalah sebuah konsultan bisnis dan manajemen asing. Direktur-direktur serta beberapa orang jajaran manajernya adalah orang asing. Akhirnya pula, saya memiliki teman kantor yang banyak dari berbagai divisi.

Happy Birthday to ME!!! Happy birthday to my late Daddy. Kami berdua lahir di bulan November, ditanggal yang sama pula. Harusnya beliau 62 dan saya 26. Haaah, tidak ada yang memberi saya kado. Tapi setidaknya amat sangat banyak ucapan yang datang. Mengharapkan saya supaya selalu sehat, dalam lindungan Allah, murah rejeki dan jodooooh, segeralah mampir 
Terima kasih ya untuk doanya.

Memasuki bulan Desember, suasana libur dan banyak kerjaan jadi satu. Saya sering sekali berada diluar kantor untuk mengurusi klien. Selain itu, salah seorang teman SMA saya ada yang sedang sakit parah. Dia terkena HIV tapi belum berubah menjadi AIDS. Disinilah saya banyak belajar mengenai HIV itu sendiri. Saya dan teman-teman almamater saya berusaha untuk menggalang dana dan memberikan bantuan berupa materil dan immateril. Saya waktu itu ditunjuk jadi bendahara. Sementara Ketua angkatan yang banyak melakukan ajakan ke teman-teman yang lain. Singkat cerita, saya mulai ada rasa kepada Ketua angkatan saya ini. Tidak banyak. Hanya sebatas mengagumi aja. Karena orang yang saya lihat waktu SMA dan sekarang sudah berbeda sekali. Mungkin karena efek usia dan sudah bekerja. Tapi sayang, cinta bertepuk sebelah tangan. Eh, sampai akhirnya saya ketemu seseorang di kantor saya. Anak baru divisi lain. Hem, hem, masih single. Saya kira single itu berarti ngga punya pacar. Ternyata saya salah. Tapi, janur kuning belum melengkung, jadi mari kita coba lagi.. :D

Happy New Year 2011…..!!!

31 Desember 2010

Ibu saya sedang tidak ada di Jakarta, beliau ikut reuni yang diadakan sama kantor almarhum ayah di Sukabumi. Jadilah saya dirumah sendirian dengan bertemankan tiga buah kaleng Heineken dan film-film yang ada tivi. Sampai-sampai saya tidurnya saja di sofa, di ruang tamu.
Hanya satu harapan saya di tahun 2011 ini. Saya ingin menemukan seseorang yang baik, tidak hanya baik bagi saya, tapi juga baik bagi Ibu saya. Seseorang yang bisa melindungi kami berdua, Seseorang yang bisa mengasihi kami. Dua puluh enam tahun saya rasa cukup sudah menjadi seorang pejuang. Bukannya saya akan berhenti berjuang, namun seorang pejuangpun butuh kapten atau jenderal kepercayaan dan penasehat andalan.
Tidak muluk-muluk, hanya itu yang saya inginkan. Tapi selain itu, saya tetap memasrahkan semuanya kepada Allah SWT. Jikalau memang menurutNya, saya belum dipertemukan sekarang, maupun satu atau dua tahun kedepan, atau bahkan ketika saya mati, maka saya akan ikhlas.

Saya yakin, Allah menciptakan kita berpasang-pasangan, Maka ketika saya tidak menemukan jodoh saya di duniawi yang fana ini, nanti ketika di hari akhir dan di tempat dimana saya berada (baik surga maupun neraka), saya yakin akan ada seseorang untuk saya,

4 comments:

Avy said...

Malam minggu mencari ketenangan

Dhamayanti Setiadi said...

Hahahaha, mungkin juga begitu mas. Mungkin juga tidak, tapi yang jelas, malam yang penuh perenungan dan merasa bersyukur bisa melalui ini semua... *halah*

astie nfh said...

*accidentaly, found your blog.*

ah,, damee... gw suka 3 paragraf terakhir.

semoga sukses ya menemukan kapten yang terbaik buat lo :D

Dhamayanti Setiadi said...

Makasih banyak yah Astie.. :D

Cute Blue Flying ButterflyLight Blue PointerVanisher