Demi kemaslahatan bersama semua yang ada disini akan diceritakan dengan nama samaran yah :)
Dimas mengendap-endap dari belakang Maya yang sedang berjongkok mencari mug yang bisa ia pinjam untuk minum air putih. Mug-nya sendiri sedang dipakai untuk teh.
"Ciyeeeh, yang uda berani minjem gelas si Galak," hardik Dimas tiba-tiba.
Hampir saja mug yang Maya pegang meluncur dengan sigap dari jarinya. Untung dia sudah biasa juggling duren, dengan sigap dia tangkap mug itu.
"Wah sialan lo, bikin gw kaget aja!!" gerutu Maya.
Tak lama Mbak Rahmi seniornya Dimas pun berjalan ke arah pantry.
"Mbak, ada yang uda berani pinjem gelas si Galak neh," seraya menunjukkan lirikan menyebalkan ke arah Maya.
Maya senyam-senyum anjrit secara yang ia tau, Mbak Rahmi itu salah satu teman dekat "si Galak".
Mba Rahmi berkacak pinggang dengan tatapan yang tidak beda menyebalkan dengan juniornya, "Oh ya??!!"
"Ish, udahlah, sebenernya bisa minjem gelas sapa aja sih, cuma kan karena gelas si Galak itu ada namanya, jadi lebih gampang kalo mau pinjem. Kalo dia nanya juga gampang kan? Emang kenapa sih ama si Galak??"
Maya tidak menyadari perubahan air muka Mbak Rahmi dan Dimas. Tak lama kedua orang tersebut mengambil seribu langkah. Maya bengong.
Gak sopan, batin Maya. Baru saja ia hendak berbalik menuju ruangannya. Sampai.... Ups!!
"Mana mug gw? Mau gw pake....," kata si Galak Rahman yang sudah berdiri dibelakang Maya dan mengangkat sebelah alisnya setinggi 45 derajat, ngga kurang, ngga lebih.
Maya mringis bego.
***

0 comments:
Post a Comment