Cerita ini gw kisahkan setelah gw ketemu sahabat gw yang udah lama banget ngga ketemu, dan setelah akhirnya ketemu, kok ceritanya ngenes banget...
So, temen gw ini baru saja kehilangan uang dari tabungannya dalam jumlah yang cukup lumayan, yaitu 3 juta rupiah. Hal ini dia sadari sewaktu hendak mengisi pulsa handphonenya. Temen gw ini mau isi pulsa via ATM dan dia kaget waktu ngeliat jumlah saldonya. Dia sadar, saldonya berkurang 1,5jt rupiah! Padahal dia sama sekali ngga pernah ngambil sebelumnya.
Oh iya, tabungan temen gw ini BRI.
Setelah dia yakin memang uangnya berkurang, temen gw ini melakukan pelaporan ke Customer Service BRI. Betapa kagetnya dia ketika dia minta di-print out buku, uangnya lagi-lagi berkurang 1,5jt rupiah! Dengan mata yang mbrambang, alias berkaca-kaca temen gw ini langsung minta pertanggung jawaban dari pihak BRI. Temen gw minta dikeluarkan rekening korannya.
Berikut hasil yang dapat disampaikan oleh CS-nya BRI:
Tanggal yang akan gw sampaikan adalah fiktif. Pada tanggal 15 telah terjadi penarikan di Pekanbaru sejumlah 1,5jt rupiah dan kemudian di tanggal 19 malam itulah temen gw melakukan pembelian pulsa via ATM di Jakarta. Ketika tanggal 20 temen gw melakukan pelaporan di BRI, terjadi pengambilan 1,5jt rupiah yang ke-dua.
Pengambilan pertama, berdasarkan kode yang tertera di rekening koran merupakan transaksi manual. Transaksi manual ini dalam pemahaman kami adalah menggunakan slip penarikan dan membubuhkan tanda tangan. Tapi menurut si mbak CS, kemungkinan ada orang yang salah transfer ke rekening temen gw dan begitu sadar, orang tersebut minta ditarik kembali.
Okelah kalau memang begitu, tapi kan harusnya jumlah saldo tabungan temen gw ini tetep dong dan bukannya berkurang?
Sementara penarikan ke-dua, berdasarkan kode merupakan penarikan yang dilakukan dengan menggunakan ATM dengan locus delicti lagi-lagi di Pekanbaru! Kok bisa?! Kan temen gw dan ATMnya berlokasi di Jakarta.
Lucunya, karena temen gw udah sangat panik, dia putuskan untuk menarik semua uangnya dalam tabungan daripada berpindah tangan ke orang-orang tidak bertanggung jawab. Temen gw ini nyoba untuk ambil 1,5jt per penarikan dan nyatanya ngga bisa! Nominal paling besar untuk menarik dana via ATM BRI hanyalah 1jt rupiah. Terus, kok, si maling ini bisa ngambil 1,5jt rupiah lewat ATM?
Pihak BRI menjanjikan akan mengurus masalah ini dalam 2 minggu. Untuk penarikan pertama, karena dalam prosedur manual, maka masih bisa dilacak. Begitu penjelasan dari mbak CS BRI.
Temen gw ini udah ngga bisa mikir apa-apa selain pasrah nunggu kabar. Sampai akhirnya dia ceritain semua masalah ini ke gw.
Entah kenapa, melihat lokasi kejahatan yang dua-duanya terjadi di Pekanbaru, gw jadi tercetus pertanyaan ke temen gw. "Lo nginep dimana waktu di Pekanbaru?", hal ini gw tanyakan karena memang setau gw, seminggu sebelumnya, dia baru saja dari Pekanbaru.
"Grand Premier," jawab dia.
"Gimana cara lo bayar hotelnya?"
"Gw pake debit ATM."
"Shoot!! Disitulah kejahatan ini dimulai," jawab gw.
Modus kejahatan orang sekarang semakin bervariasi dan makin pinter. Gw juga ngga ngerti gimana caranya. Apakah ada orang Grand Premier yang bekerja sama dengan orang dalam Bank BRI? Atau dengan Bank manapun sehingga bisa melakukan tindak kejahatan tersebut?
Atau orang-orang yang tidak ada sangkut paut, baik dengan Grand Premier atau BRI, tapi bisa memiliki akses untuk melakukan hal tersebut?
Rasa-rasanya hampir ngga mungkin. Besar kemungkinan salah satu pihak terlibat. Hal ini gw sampaikan karena sekali lagi mengingat locus delicti di Pekanbaru, yang mana, temen gw itu belum lama baru pulang dari sana. Transaksi yang terjadi menggunakan debit tersebut hanyalah sewaktu hendak membayar tagihan hotel dan satu kali ia mengambil di ATM bank BRI langsung dan semua kegiatan tersebut tercetak di rekening korannya.
Sampai blog ini gw turunkan, uangnya baru kembali 1,5jt rupiah. Sedangkan 1,5jt-nya yang ke-dua belum ada kabar.
Makin ngga aman kayanya make debit ATM yah? Padahlah kan tujuan kita pake debit ATM supaya menghindari kejahatan kalau kita membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Nyatanya hal ini ngga jadi jaminan juga.
Mungkin besok-besok kita akan mulai kebiasaan orang-orang dulu yang nyimpen uang dibawah bantal...
Note: locus delicti = tempat terjadinya tindak kejahatan
