Myung, malam nanti mungkin akan jadi malam terakhir ia bermain futsal. Lenka bingung. Ia hendak memberikan sesuatu kepada Myung sebagai bentuk penyemangat.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Iya! Myung belum pernah makan es krim ogura. Es krim rasa kacang merah ala Jepang. Sekarang Lenka tahu, hendak ia bawakan apa Myung nanti.
***
Lenka berkali-kali melirik jam tangan Casio Illuminator-nya dengan gusar. Meeting yang tak berkesudahan membuatnya berlari-lari menuju sebuah restoran masakan Jepang yang menyediakan es krim ogura. Tak berlama-lama ditempat itu, Lenka segera melesat dengan kecepatan yang luar biasa, mengingat ia sedang menggunakan hak setinggi 7cm dan Ia tidak ingin ketinggalan nonton Myung dengan lincahnya menggocek bola.
Tangannya berayun di udara yang hampa, memanggil taksi. Lenka sebutkan kemana tujuannya. Kegelisahannya tak berhenti, jalanan sedang tidak bersahabat. Ia melihat kepadatan kendaraan yang merayap. Berulang kali ia mendecakkan lidahnya.
***
Terengah-engah ia sampai di lantai 3 arena futsal tersebut. Beruntunglah Lenka, Myung menyadari kehadirannya. Wajah Lenka memerah karena kelelahan. Myung sedang berada di luar lapangan.
Lenka berlari kecil menghampiri Myung dengan sisa nafasnya.
"Hosh.. hosh... Udah kelar yah mainnya?" tanya Lenka begitu berhadapan dengan Myung.
"Belom. Tapi aku udah kelar main. Eh, bawa apa tuh?" tunjuk Myung ke bungkusan plastik yang dibawa Lenka seraya melap keringatnya yang masih mengucur deras di tubuhnya.
"Es krim. Es krim ogura. Untuk kamu," ujar Lenka menyodorkan kantong plastik yang meneteskan air. Es batu yang mendinginkan es krim tersebut mulai mencair.
"Thanks ya!"
Myung membuka kantong plastik tersebut dengan cepat. Tak menunggu lama untuk menghabiskan es krim ogura tersebut.
Lenka tersenyum samar. Ia senang memandang wajah Myung yang tampak menikmati es krimnya tersebut.
***

0 comments:
Post a Comment