Tuesday, February 14, 2012

Avantasia - A world beyond human imagination

Kesenangan saya akan band-band rock Eropa tidak bisa dipungkiri. Bagi saya mereka itu ‘jagoan-jagoan’ atau ‘kampiun-kampiun’ dalam musik rock. Saya bukanlah seorang rocker dengan “ilmu” nge-rock yang ngelotok, tapi saya senang mendengarkan band-band yang jarang orang lain dengar dan albumnya juga jarang beredar di Indonesia.

Kali ini yang mau saya ceritakan adalah sebuah band proyekan asal Jerman yang bernama Avantasia. Saya dengar Avantasia pertama kali karena referensi seorang teman dan pada akhirnya, saya tidak bisa lepas mendengarkan suara seorang Tobias Sammet sang vokalis setiap hari. Dosisnya, minimal satu lagu per hari.

Adalah Tobias Sammet yang lahir pada tanggal 21 November 1977 di Fuida, Jerman, orang cerdas yang membidani lahirnya Avantasia, sebuah band metal-opera yang menelurkan total delapan buah album. Tobias Sammet sendiri adalah front man band Edguy yang tenar dengan single King of Fools-nya. Avantasia lahir pada tahun 1999 ditengah-tengah kesibukan Tobias Sammet dalam tur Theater of Salvation, yang merupakan album keempat Edguy.

Kata Avantasia sendiri merupakan penggabungan dari dua buah suku kata yaitu, “avalon” dan “fantasia” yang dapat digambarkan sebagai “sebuah dunia yang melebihi imajinasi manusia”.

Tobias Sammet tidak bisa bekerja sendiri untuk mewujudkan band proyekan ini. Oleh karenanya menggandeng banyak musisi tenar untuk membantunya, baik sebagai personil band maupun sebagai vokalis tamu. Sascha Paeth adalah gitaris yang “bertanggung jawab” untuk mengisi track-track Avantasia. Sascha adalah gitaris yang membantu Tobias tidak hanya di Avantasia, namun juga Edguy. Sascha sendiri adalah gitaris dari sebuah band heavy metal Rhapsody of Fire. Sementara untuk mengisi posisi bass, Tobias Sammet mengajak Robert Hunecke-Rizzo. Posisi keyboard dipercayakan kepada Michael Rodenberg atau yang lebih dikenal dengan nama Miro, kibordis yang juga main untuk Angra dan Rhapsody of Fire. Tidak ketinggalan Felix Bohnke, drummer yang juga membantu Tobias Sammet di Edguy.

Sementara itu jajaran vokalis yang diajak Tobias Sammet antara lain: Michael Kiske dan Kai Hansen, yang mana keduanya adalah ex vokalis Helloween, Rob Rock ex vokalis Axel Rudi Pell,  Timo Tolki vokalis Stratovarius, Klaus Meine dari Scorpions dan seorang vokalis wanita, Sharon den Adel dari Within Temptation. Selain nama-nama tenar yang sudah disebutkan tadi, ada seorang backing vocal setia yang kerap mengisi di lagu-lagu Avantasia, baik recording ataupun live, yaitu Amanda Somerville.

Album pertama Avantasia merupakan self-titled mini album yang hanya berisikan 4 tracks, yang rilis pada tahun 2000. Sementara album studio pertama mereka diberi judul Metal Opera dan Metal Opera II yang rilis pada tahun 2001 dan 2002. Tidak main-main dalam proyek Avantasia ini, Tobias Sammet mengeluarkan album trilogy yaitu The Wicked Trilogy: Part I – The Scarecrow (2008), Part II – The Wicked Symphony (2010) dan Part III – Angel of Babylon (2010).

Selain itu Avantasia mengeluarkan dua buah EP yaitu Lost in Space I dan Lost in Space II serta sebuah album live The Flying Opera pada tahun 2011.

Avantasia sendiri memiliki beberapa single yang menurut saya ear-catchy alias enak didengar. “Lost in Space”, “The Story Ain’t Over”, “What Kind of Love”, “Cry Just A Little”, “Journey to Arcadia”, “Carry Me Over” dan “Dying for An Angel”. Ada satu lagu favorit saya sepanjang masa yang merupakan lagu cover ulang yang pertama kali dinyayikan oleh Freddy Mercury, “In My Defense”. “In My Defense” sendiri sebenarnya diciptakan oleh Dave Clark untuk dinyanyikan Freddy dalam Time sebuah musical yang juga merupakan hasil karya Dave Clark.

Satu hal menarik yang saya temukan mengenai Avantasia adalah ketika saya minta tolong seorang expatriat di kantor saya sewaktu ia pulang ke Jerman, saya titip untuk dibelikan hoodie Avantasia via web. Expatriat saya bertanya kepada saya, “Siapa sih band Avantasia ini. Saya ngga pernah denger mereka. Ngga setenar Scorpions ya? Saya ngga pernah dengar mereka.” Kira-kira seperti itu kata-katanya. Hal ini bikin saya mau tidak mau tertawa.

Mungkin memang ini sebuah selera pribadi saya, seperti saya bilang bahwa musik rock band-band asal Eropa itu kaya akan unsur eksperimen alat musik, penggabungan lirik yang metaforfosa, suara-suara khas yang gelap menjadikan Avantasia sebagai band favorit saya.



Sources:

0 comments:

Cute Blue Flying ButterflyLight Blue PointerVanisher