Mau sampai kapanpun, cuma bisa ngeliatin aja dari luar. Masuk bisa sih, tapi hanya sebatas megang dan syukur-syukur diijinin untuk nyoba. Memilikinya? Lebih karena ngga mampu, ngga bisa, ngga boleh. Soalnya itu special edition, one of a kind. Not for sale (anymore). Mungkin beberapa tahun lalu itu available dan free, nunggu untuk dibeli. Tapi sekarang, kondisinya adalah dia sudah dimiliki oleh seorang kolektor dan ngga akan mungkin dilepas ke orang lain, apapun yang terjadi.
Mau karena gempa bumi, terjadi huru-hara, keadaan ekonomi yang ditetapkan berdasarkan kebijakan pemerintah sampai deklarasi perang dikumandangkan pun, ngga akan mungkin dilepas sama kolektornya. Pokoknya mau force majeur kaya apapun ngga akan dipindahtangankan!
Soalnya kolektornya belinya juga pake rasa sayang dan cinta. Ngga sekedar asal milih.
Yang bisa misahin? Hanya kehendak Tuhan. Baik karena si kolektor lepas usia atau karena sesuatu tersebut sudah uzur, atau karena memang Tuhan berkehendak untuk memberikan sesuatu tersebut kepada orang lain.
Mungkin ada orang diluar sana yang jauh lebih mencintai dan menghargai sesuatu tersebut? Entahlah.
Setidaknya aku sendiri bersyukur masih bisa melihat sesuatu tersebut dari jarak yang cukup dekat, sempet dipake juga malah. Maybe one day I'll find something that tailor-made for me.
Actually this is not just MY Journey. But maybe, someone else's, or maybe YOU, or I don't know.. Maybe this just for fun...
Wednesday, February 22, 2012
Tuesday, February 14, 2012
Avantasia - A world beyond human imagination
Kesenangan saya akan band-band rock Eropa tidak bisa dipungkiri. Bagi saya mereka itu ‘jagoan-jagoan’ atau ‘kampiun-kampiun’ dalam musik rock. Saya bukanlah seorang rocker dengan “ilmu” nge-rock yang ngelotok, tapi saya senang mendengarkan band-band yang jarang orang lain dengar dan albumnya juga jarang beredar di Indonesia.
Kali ini yang mau saya ceritakan adalah sebuah band proyekan asal Jerman yang bernama Avantasia. Saya dengar Avantasia pertama kali karena referensi seorang teman dan pada akhirnya, saya tidak bisa lepas mendengarkan suara seorang Tobias Sammet sang vokalis setiap hari. Dosisnya, minimal satu lagu per hari.
Adalah Tobias Sammet yang lahir pada tanggal 21 November 1977 di Fuida, Jerman, orang cerdas yang membidani lahirnya Avantasia, sebuah band metal-opera yang menelurkan total delapan buah album. Tobias Sammet sendiri adalah front man band Edguy yang tenar dengan single King of Fools-nya. Avantasia lahir pada tahun 1999 ditengah-tengah kesibukan Tobias Sammet dalam tur Theater of Salvation, yang merupakan album keempat Edguy.
Kata Avantasia sendiri merupakan penggabungan dari dua buah suku kata yaitu, “avalon” dan “fantasia” yang dapat digambarkan sebagai “sebuah dunia yang melebihi imajinasi manusia”.
Tobias Sammet tidak bisa bekerja sendiri untuk mewujudkan band proyekan ini. Oleh karenanya menggandeng banyak musisi tenar untuk membantunya, baik sebagai personil band maupun sebagai vokalis tamu. Sascha Paeth adalah gitaris yang “bertanggung jawab” untuk mengisi track-track Avantasia. Sascha adalah gitaris yang membantu Tobias tidak hanya di Avantasia, namun juga Edguy. Sascha sendiri adalah gitaris dari sebuah band heavy metal Rhapsody of Fire. Sementara untuk mengisi posisi bass, Tobias Sammet mengajak Robert Hunecke-Rizzo. Posisi keyboard dipercayakan kepada Michael Rodenberg atau yang lebih dikenal dengan nama Miro, kibordis yang juga main untuk Angra dan Rhapsody of Fire. Tidak ketinggalan Felix Bohnke, drummer yang juga membantu Tobias Sammet di Edguy.
Sementara itu jajaran vokalis yang diajak Tobias Sammet antara lain: Michael Kiske dan Kai Hansen, yang mana keduanya adalah ex vokalis Helloween, Rob Rock ex vokalis Axel Rudi Pell, Timo Tolki vokalis Stratovarius, Klaus Meine dari Scorpions dan seorang vokalis wanita, Sharon den Adel dari Within Temptation. Selain nama-nama tenar yang sudah disebutkan tadi, ada seorang backing vocal setia yang kerap mengisi di lagu-lagu Avantasia, baik recording ataupun live, yaitu Amanda Somerville.
Album pertama Avantasia merupakan self-titled mini album yang hanya berisikan 4 tracks, yang rilis pada tahun 2000. Sementara album studio pertama mereka diberi judul Metal Opera dan Metal Opera II yang rilis pada tahun 2001 dan 2002. Tidak main-main dalam proyek Avantasia ini, Tobias Sammet mengeluarkan album trilogy yaitu The Wicked Trilogy: Part I – The Scarecrow (2008), Part II – The Wicked Symphony (2010) dan Part III – Angel of Babylon (2010).
Selain itu Avantasia mengeluarkan dua buah EP yaitu Lost in Space I dan Lost in Space II serta sebuah album live The Flying Opera pada tahun 2011.
Avantasia sendiri memiliki beberapa single yang menurut saya ear-catchy alias enak didengar. “Lost in Space”, “The Story Ain’t Over”, “What Kind of Love”, “Cry Just A Little”, “Journey to Arcadia”, “Carry Me Over” dan “Dying for An Angel”. Ada satu lagu favorit saya sepanjang masa yang merupakan lagu cover ulang yang pertama kali dinyayikan oleh Freddy Mercury, “In My Defense”. “In My Defense” sendiri sebenarnya diciptakan oleh Dave Clark untuk dinyanyikan Freddy dalam Time sebuah musical yang juga merupakan hasil karya Dave Clark.
Satu hal menarik yang saya temukan mengenai Avantasia adalah ketika saya minta tolong seorang expatriat di kantor saya sewaktu ia pulang ke Jerman, saya titip untuk dibelikan hoodie Avantasia via web. Expatriat saya bertanya kepada saya, “Siapa sih band Avantasia ini. Saya ngga pernah denger mereka. Ngga setenar Scorpions ya? Saya ngga pernah dengar mereka.” Kira-kira seperti itu kata-katanya. Hal ini bikin saya mau tidak mau tertawa.
Mungkin memang ini sebuah selera pribadi saya, seperti saya bilang bahwa musik rock band-band asal Eropa itu kaya akan unsur eksperimen alat musik, penggabungan lirik yang metaforfosa, suara-suara khas yang gelap menjadikan Avantasia sebagai band favorit saya.
Sources:
Monday, February 13, 2012
Apocalyptica, cellist guys play rocks!
![]() |
| Left to right: Pertu, Miko, Paavo. Front: Eicca |
Tidak banyak orang yang pernah mendengar nama band rock asal Skandinavia ini. Apocalyptica pertama kali berdiri pada tahun 1993 di Helsinki, Finlandia yang beranggotakan Eicca Toppinen, Paavo Lötjönen, Max Lilja dan Antero Manninen di awal kemunculannya. Keempatnya merupakan lulusan sekolah musik Sibelius Academy yang terkenal di negara asal mereka. Album pertama mereka dirilis pada tahun 1996 dengan titel Plays Metallica by Four Cellos, dimana mereka meng-cover ulang lagu-lagu milik Metallica. Kemudian pada tahun 1998, Apocalyptica merilis album studio kedua mereka yang diberi titel Inquisition Symphony, dimana mereka sekali lagi melakukan cover ulang lagu-lagu Metallica, dengan ditambahkan beberapa lagu milik Faith No More, Sepultura dan Pantera serta 3 lagu ciptaan Eicca Toppinen.
Dengan membawa jenis musik yang unik dan ciri khas yang menarik, membuat Apocalyptica cepat mendapatkan tempat di hati pendengarnya di wilayah negara-negara Skandinavia umumnya dan Finlandia khususnya. Namun pada tahun 1999 Antero Manninen memutuskan untuk hengkang dari grup dan posisinya digantikan oleh Perttu Kivilaakso yang sebenarnya sudah ikut membantu Apocalyptica sejak tahun 1995. Album ketiga mereka yang rilis pada tahun 2000 diberi judul Cult, menghadirkan 10 lagu original ciptaan mereka dan 3 buah lagu cover ulang. Pada tahun 2002 Max Lilja memutuskan untuk mundur dari Apocalyptica dan bergabung dengan band Havein.
Album studio keempat mereka, Reflections rilis pada tahun 2003. Album ini merupakan album pertama yang secara keseluruhan lagu-lagunya merupakan orisinil ciptaan Apocalyptica. Unsur yang dibawakan lebih banyak eksperimen suara dan bukannya berbentuk akustik seperti dalam album-album sebelumnya. Dalam album Reflections, terdapat 5 tracks yang dibantu Dave Lombardo, drummer untuk band Slayer dan sebagian yang lain diisi oleh Sami Kuoppamäki. Namun ketidakmungkinan Lombardo untuk bergabung secara permanen dalam Apocalyptica, maka mereka memakai Mikko Sirén dalam setiap tur-nya dan pada akhirnya bergabung secara resmi dengan Apocalyptica setelah melakukan lebih dari 200 pertunjukan di tahun 2005.
Album self-titled Apocalyptica merupakan album studio kelima mereka dengan memberikan warna yang lebih bervariasi yaitu dengan mengajak beberapa vokalis ternama untuk membantu mengisi vokal dalam lagu-lagu mereka. Sebut saja Ville Valo dari HIM dan Lauri Ylönen yang sudah lebih dulu melejit dengan band The Rasmus-nya dan sekali lagi berkolaborasi dengan Dave Lombardo. Selang 2 tahun kemudian, mereka kembali merilis album studionya sebagai album keenam mereka yang diberi judul Worlds Collide pada tanggal 17 September 2007 dengan menyertakan lagu David Bowie, “Heroes” dalam bahasa Jerman. Single pertama Apocalyptica dalam album ini “I’m Not Jesus” dibantu oleh vokalis Slipknot, Corey Taylor serta Stone Sour menempatkan album tersebut di jajaran 10 teratas untuk chart Active Rocks dan Alternative Rocks.
Pada tahun 2008 single Apocalyptica featuring Adam Gontier yang berjudul “I Don’t Care” menembus posisi rangking 1 dalam Billboard rock chart dan menjadikan Apocalyptica sebagai band Finlandia pertama yang masuk kedalam US charts. Single “I Don’t Care” juga muncul dalam episode ke-16 season 8 drama televisi Smallville, yang tayang pada tanggal 19 Maret 2009.
Apocalyptica tidak hanya mengajak vokalis pria, namun mereka juga melakukan eksperimen dengan mengajak dua orang vokalis wanita yaitu Lacey Mosley dari Flyleaf untuk mengisi single kedua mereka yang diberi judul “Broken Pieces” serta Christina Scabbia vokalis Lacuna Coil asal Italia dalam single “S.O.S (Anything But Love)”. Apocalyptica mempercayakan Brent Smith untuk mengisi single ketiga yang dirilis yaitu “Not Strong Enough”. Namun karena adanya pembatasan pendistribusian vokal Brent Smith, maka single “Not Strong Enough” direkam ulang dengan mengajak Doug Robb dari Hoobastank dan “Not Strong Enough” yang direkam ulang ini dirilis pada tanggal 18 Januari 2011 di radio-radio di Amerika Serikat.
Pada saat tulisan ini diturunkan, Apocalyptica sedang sibuk melakukan tour Amerika Selatannya, dimana mereka selalu mendapatkan sambutan hangat di setiap negara atau kota yang mereka hampiri.
Apa yang membuat Apocalyptica berbeda?
Jelas, karena pemilihan alat musik yang bisa dibilang nyentrik kalau tidak mau disebut kontroversial dalam “dunia” musik rock. Namun karena hal itu tersebutlah, Apocalyptica menempatkan dirinya sebagai band papan atas dengan kemampuan musikalitas yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Selain itu, bisa dibilang nuansa musik band-band rock Eropa memang lebih ‘kaya’ jika dibandingkan dengan band-band rock asal Amerika pada umumnya. Efek suara yang megah, paduan suara, serta banyaknya unsur string yang dimasukan dalam komposisi lagu mereka, serta dipadankan dengan lirik yang kelam dan berat, membuat band-band asal Eropa ini patut diacungi 4 jempol sekaligus.
Jika sudah bosan dengan band rock yang menampilkan musik yang ‘itu-itu saja’, maka coba dengarkan Apocalyptica dan rasakan menonton konser klasik dengan efek rock. Atau konser rock dengan efek klasik?
Thursday, February 2, 2012
Pantry #4
Demi kemaslahatan bersama semua yang ada disini akan diceritakan dengan nama samaran yah :)
"Eh, jadi cerita itu bener yah?" berondong Cila sewaktu melihat Maya yang baru saja keluar dari toilet. Baru selesai dandan.
Maya berjengit sewaktu Cila mendekatinya. Kaya ngeliat tagihan kartu kredit yang membengkak gitu deh.
"Apaan sih?" kelak Maya.
"Isssh, security juga udah tau kalo lo kemaren malem dianter sama si Galak," senyum Cila jail.
"Ciyeee Maya!!!!" teriak Vera dari dalam ruangan Tax sambil cengir-cengir bajing.
Wajah Maya memelas, nggak sanggup bales kata-kata Cila dan Vera. Bagaikan semut mengerubungi gula, tiba-tiba saja Mbak Rahmi dan Dimas bahkan Tommy yang biasanya jarang bergosip, serempak bikin kopi di Pantry sambil senyum-senyum penuh makna ke Maya. Yang disenyum-senyumin tiba-tiba berasa kemejanya kesempitan, dadanya sesak. Ngarep banget 'itu'nya membesar dalam waktu secepat ini.
"Jadi, kapan makan-makannya?" tanya Tommy tiba-tiba.
Rombongan orang-orang haus infotainment itu masih terus mengerubungi Maya dan Maya cuma bisa diem aja kalo ngga tiba-tiba kali ini dia ngerasa seneng banget ngeliat alis yang diangkat 45 derajat ngga kurang, ngga lebih itu.
"Ehem! Gw mau bikin minum dan elo semua bergerombol ngga jelas. Lo juga!" tuding Rahman dengan hidungnya ke arah Maya. "Ngga usah ngarep jadi artis di kantor deh!"
BLLLAAARRR!!! Maya berasa ketampar petir disiang pagi bolong.
Tanpa dikomando semua gossiper itu bubar dan Maya berdiri mematung dengan mulut ternganga mendengar penggalan terakhir kata-kata Rahman. Dirinya meradang, air matanya mulai terbit. Ia berjalan dengan langkah-langkah besar dan kasar menuju ruangannya tanpa memalingkan wajah ke Si Galak.
***
"Eh, jadi cerita itu bener yah?" berondong Cila sewaktu melihat Maya yang baru saja keluar dari toilet. Baru selesai dandan.
Maya berjengit sewaktu Cila mendekatinya. Kaya ngeliat tagihan kartu kredit yang membengkak gitu deh.
"Apaan sih?" kelak Maya.
"Isssh, security juga udah tau kalo lo kemaren malem dianter sama si Galak," senyum Cila jail.
"Ciyeee Maya!!!!" teriak Vera dari dalam ruangan Tax sambil cengir-cengir bajing.
Wajah Maya memelas, nggak sanggup bales kata-kata Cila dan Vera. Bagaikan semut mengerubungi gula, tiba-tiba saja Mbak Rahmi dan Dimas bahkan Tommy yang biasanya jarang bergosip, serempak bikin kopi di Pantry sambil senyum-senyum penuh makna ke Maya. Yang disenyum-senyumin tiba-tiba berasa kemejanya kesempitan, dadanya sesak. Ngarep banget 'itu'nya membesar dalam waktu secepat ini.
"Jadi, kapan makan-makannya?" tanya Tommy tiba-tiba.
Rombongan orang-orang haus infotainment itu masih terus mengerubungi Maya dan Maya cuma bisa diem aja kalo ngga tiba-tiba kali ini dia ngerasa seneng banget ngeliat alis yang diangkat 45 derajat ngga kurang, ngga lebih itu.
"Ehem! Gw mau bikin minum dan elo semua bergerombol ngga jelas. Lo juga!" tuding Rahman dengan hidungnya ke arah Maya. "Ngga usah ngarep jadi artis di kantor deh!"
BLLLAAARRR!!! Maya berasa ketampar petir di
Tanpa dikomando semua gossiper itu bubar dan Maya berdiri mematung dengan mulut ternganga mendengar penggalan terakhir kata-kata Rahman. Dirinya meradang, air matanya mulai terbit. Ia berjalan dengan langkah-langkah besar dan kasar menuju ruangannya tanpa memalingkan wajah ke Si Galak.
***
Subscribe to:
Posts (Atom)

